Minggu, 30 Mei 2010

Sedikit Keluhan, Saya dan Pekerjaan

Saya hidup mengikuti rutinitas harian. Bangun, mandi, sarapan, berbicara dengan sebagian anggota keluarga lalu keluar rumah untuk mencari berita utuh yang disebarluaskan kepada masyarakat. Berita utuh yang wajib cover both side. Tak peduli apakah berita itu dibaca atau tidak.

Setiap hari, meski relatif bertemu dengan orang yang berbeda, menyusuri jalanan yang tak identik, namun rutinitas yang saya jalani hampir sama. Bermotor, mencari orang, bertanya kepada orang-orang yang dijadikan narasumber dan merangkai setiap kalimat yang keluar dari mulut mereka menjadi tulisan utuh.

Pekerjaan saya menuntut kreativitas, inovasi dan daya analisa mendalam serta pemikiran kritis tentang berbagai isu. Perlu juga daya nalar yang lebih dari manusia biasa. Saya harus menggunakan aspek-aspek tadi. Ya, itu untuk menghasilkan satu tulisan utuh yang dinamakan berita informatif.

Berita yang seolah, tanpa ada aturan tertulis digiring untuk menyusun opini publik, dibawa kepada dimensi perspektif manusia, lalu menciptakan kebijakan, entah baru atau hanya modifikasi. Entah juga kebijakan terstruktur atau kebijakan spontan yang diputuskan rezim, individu atau kelompok. Kadang, tanpa sadar, saya juga menggiring setiap individu atau kelompok untuk berkonflik.

Setiap hari saya dituntut untuk menyajikan tulisan yang enak dibaca dan dijadikan sumber refensi masyarakat. Ya, saya seorang reporter atau wartawan atau sering juga disebut jurnalis. Satu dari empat profesi di negeri ini, selain Dokter, Pengacara dan Psikolog. Profesi yang belakangan menjadi tergandrungi. Menjadi impian sebagian anak-anak muda idealis dan punya jiwa muda menggebu. Profesi ini memiliki kode etik tapi jika ditilik lagi, regulasi itu tidak bertaring. Kode etik percuma. Dan profesi ini, kata sebagian orang, bukan pekerjaan ladang harta.

Setelah berkecimpung dan bergelut dengan dunia reportase, kadang, saya tak ingat waktu. Tak tahu apa yang harus dilakukan selain bekerja, bekerja dan bekerja. Mengulik agar apa yang saya tulis sama dengan keinginan redaktur. Menata agar tulisan saya enak dibaca. Lalu, belajar mengolah isu dan data dari teman satu profesi di lapangan. Kadang saya tak sadar bahwa saya punya orang lain. Kadang saya tak tahu, di sana ada orang yang membutuhkan kehadiran saya atau hanya sekadar butuh disapa.

Sempat terpikir, profesi ini menjauhkan saya dengan objek terdekat, dan semakin menjauhkan saya dengan objek terjauh. Kendati demikian, saya sempat jatuh cinta dengan profesi ini. Lewat pendalaman profesi, saya kenal dengan beberapa pesohor, meski skala kepopulerannya masih jangkauan lokal di Jawa Barat atau Kota Bandung. Lambat laun, cinta saya memudar. Realitas di lapangan tidak sama dengan apa yang saya bayangkan dulu.

Profesi ini tak selalu dihargai, tapi ternyata bisa dengan mudah digadaikan. Kini, saya mencoba untuk lebih longgar dengan waktu. Karena ya itu tadi, cinta saya sudah sedikit memudar dibanding pertamakali saya menggabungkan diri di lingkaran ini. Saya bukan seorang yang memegang teguh prinsip dan idealisme profesi. Saya seorang yang mencoba untuk berdiri dalam kubangan realisme. Logika mewajibkan saya untuk hidup realistis.

Hanya saja, saat ini, saya mencoba untuk tersadar bahwa hidup tak selamanya bertekanan. Hidup harus bernafas lega, tidak melulu harus ngos-ngosan mengejar deadline. Hidup bukan hanya sekadar untuk pekerjaan bukankah? Dunia bukan hanya berita. Ah, saya baru sadar, sudah lama saya tidak menikmati hidup. Memanjakan diri. Menulis apa yang saya mau, bukan yang redaktur inginkan. Bercerita apa yang saya lihat, bukan yang orang lain katakan.

Kadang terbersit pikiran, untuk keluarga besar, saya bukan lagi pendengar dan pencerita yang menarik. Bahkan saya lebih berpikir tentang bagaimana caranya bisa mendapatkan berita terkait tingkat kelulusan SMP di Jabar ketimbang kabar terakhir tentang kesehatan adik saya yang sedang sakit. Saya lebih berupaya untuk mendapatkan pernyataan Rektor Institut Teknologi Bandung (ITB) tentang dihapusnya UU Badan Hukum Pendidikan (BHP) dibanding mengucapkan selamat ulang tahun pada kakak saya.

Dan yang lebih parah, saya lebih memilih untuk berdiam diri di kantor mengerjakan tulisan panjang tentang dana bencana yang tak cair-cair, dibanding menghadiri pemakaman nenek saya. Nenek yang lucu, periang dan bijaksana. Hari dimana dia meninggalkan kami, merupakan hari berkabung bagi keluarga besar. Seluruh anggotanya menitikkan air mata.

“Bersiaplah menjadi anti sosial,” begitu kata redaktur saya saat saya diterima di kantor ini dua tahun lalu. Dulu, saya meremehkan pernyataannya. “Ah, itu hanya stigma yang berkembang di masyarakat, bahwa reporter adalah profesi tak mengenal waktu. Dan sebagai anak muda, saya siap diperkerjakan lebih dari delapan jam sehari,” ucap saya dalam hati. Saya ingat, hari itu redaktur saya menatap saya dengan tatapan dingin dan penuh intimidasi.

Namun, lama kelamaan, perkatan redaktur ada benarnya. Saya benar-benar hampir tidak mengenal waktu untuk sekadar berkumpul dengan teman-teman, bercerita dengan teman terdekat, berbagi pengalaman dengan keluarga atau menonton tiga film DVD setiap hari. Kegiatan yang sering saya lakukan saat saya belum bekerja sebagai informan bagi masyarakat. Hal kecil, saat ini saya bahkan kadang tak sadar kuku saya memanjang.

Tapi, meski dalam tulisan ini saya mengeluh, sejujurnya saya belum mau menanggalkan identitas jurnalis yang saya punya. Saya bangga dengan profesi ini. Kapan lagi, bisa saling tatap dengan Wakil Presiden, dan bertanya kepadanya. Kapan lagi bisa ikut rombongan Gubernur Jabar ke luar kota dengan pengawalan forider.

Lalu, kapan lagi bisa makan di restoran atau hotel paling mahal di Jakarta dan Bandung. Kapan lagi, bisa belajar tentang ilmu ekonomi, ilmu astronomi, ilmu hukum dan ilmu pemerintahan gratis. Jika bukan sebagai reporter. Pengalaman saya memang belum sebanding dengan jurnalis-jurnalis yang lebih senior, lebih hebat dan lebih berpengalaman.

“Apa yang kamu dapat dari kesibukanmu?” tanya ayah saya, seorang pejuang tangguh, dingin dan penuh dengan logika nyata seorang laki-laki. Saya berpikir beberapa detik. Lalu menjawab,

“Ilmu,” singkat saya.

“Ok then, kamu bahagia?” ayah saya lagi.

“Dulu iya, sekarang lebih kepada tidak,”

"Apa yang membuat jawabanmu lebih kepada tidak. Kamu mengeluh?”

“Mungkin (saya mengeluh). Dulu saya hanya berpikir tentang pekerjaan, sekarang saya sudah mencoba untuk bersabar, menanti apa yang (tak kunjung datang) saya harapkan dari tempat dimana saya bekerja,” jawab saya.

Ayah terdiam 2 menit. “Uang?” tanyanya.

“Itu bagian dari apa yang saya harapkan selebihnya penghargaan bagi kerja keras saya, tapi sejujurnya saya belum tahu pasti apa yang menjadi harapan saya,” jawab saya.

Jawaban itu tampak tak memuaskan ayah. Keningnya mengerut, “Jadi, kenapa kamu masih terus sibuk dengan duniamu. Bahkan, saat kami semua berkumpul di rumah pada hari libur, kamu malah pergi, padahal menurutmu, penghargaan yang kamu harapkan itu tak kunjung datang. Kamu terlalu berharap dari duniamu, lalu harapan itu kamu jawantahkan dengan bekerja tak kenal waktu,” ungkapnya.

Saya tak sedikitpun berkomentar. “Kamu tahu arti dari risiko hidup?” tanyanya.

“Tahu,”

“Itulah risiko yang harus kamu tanggung, saat memilih jalan hidup. Karena dalam hidup, segala sesuatunya berisiko. Bukankah dari kecil, kamu bercita-cita menjadi jurnalis. Jadi jangan mengeluh, jalankan, hingga akhirnya kamu menemukan kebahagiaan di tempat ini atau di tempat lain, ” ujar ayah.

Saya tak bergeming. “Peluang ada di setiap pintu, di setiap penjuru,” tambahnya.

Dulu, ayah sempat berharap saya menjadi ekonom, akademisi bertitel atau ahli teknologi informasi (TI). Dia selalu menunjukkan kesuksesan ekonom yang menjadi politisi terkenal, akademisi yang menjadi bagian dari pemerintahan atau ahli TI yang sukses go internasional.

Tapi, setiap kami tengah berdua dalam satu ruangan di rumah asri kami, saya banyak bertanya tentang banyak hal. Tentang negara-negara yang pernah dia kunjungi, tentang istilah ekonomi, tentang pengalamannya sebagai orang tua. Lalu bertanya tentang filosofi dalam Al Quran, bertanya tentang sejarah, bertanya tentang apa saja yang saya ingin ketahui. Dan, satu hari di akhir pembicaraan, “Oke, jika ingin menjadi jurnalis, belajarlah, and be a good journalist,” singkatnya. Usia saya saat itu sekitar 17 tahun.

Sekarang, sejujurnya, jika bisa memilih, saya ingin menjadi akademisi. Berbagi ilmu dengan banyak orang, meneliti dan yang terpenting punya jam bekerja yang sesuai dengan daya tahan tubuh manusia. Tapi saya selalu ingat perkataan ayah tentang hidup. Katanya, “Syukuri apa yang sudah menjadi bagian dari hidupmu, dan yang terpenting adalah do the best and be the best,”.

Ayah mengajarkan tak ada putus asa, jangan kenal dengan penyesalan berlebih, dan lakukan yang terbaik untuk ke depannya. Dan saya mencoba menerapkan hal itu.

Lalu,seorang perempuan bijak yang penyayang mendekat. Dia bertanya, “Bukankah hidup adalah deadline?” tanyanya. Dia adalah ibu saya, wanita paruh baya yang menyenangkan, siap berbagi cerita kapan saja.

“Maksudnya?”

“Hidup adalah bagian dari deadline, dan dari pekerjaanmu terkandung filosofi deadline yang nyata,” jelas ibu. Ibu adalah seorang perempuan religius yang keislamannya sangat kental. Sedikit fundamental, namun sama-sama mengutuk terorisme. He he he.

“Mama(h), berharap kamu bisa hidup bahagia dengan pekerjaanmu, dengan keluarga kecilmu kelak dan dengan apa yang kamu dapat. Manusia diciptakan bukan hanya untuk mengeluh, tapi dengan akalnya dituntut untuk berupaya. Upaya yang seharusnya lebih besar daripada keluhannya” kata ibu. Klise memang, tapi itu cukup untuk membuat saya berpikir.

Pekerjaan tak selalu memuaskan. Apa yang kita dapat, belum tentu didapat orang lain. Dan apa yang orang lain dapat, juga tak pasti kita dapatkan. Saya berupaya agar tidak melihat rumput tetangga yang katanya selalu lebih hijau. Karena hijau itulah mereka, para tetangga, bekerja dengan semangat. Sementara saya, lebih kepada pengabdian. Menjalankan tanggung jawab terhadap diri dan masyarakat. Tapi, terkadang semangat untuk mengerjakan rutinitas dan menjalankan tanggung jawab itu sedikit mengendur.

Saya punya analogi tentang pekerjaan saya. Hasil obrolan dengan teman satu profesi. Menurut kami, profesi saya saat ini dianalogikan sebagai permen yang sangat mahal. Saya sudah memasukkannya dalam mulut, mengemut dengan lidah. Rasanya pahit. Tapi karena mahal, dibuang sayang. Dan karena pahit ditelan pun tak enak, jadi penyakit. Terpaksa saya diamkan dalam mulut meski pahit. Kadang, saya mengutuk permen ini.

Semoga suatu hari nanti saya bisa memutuskan untuk membuang atau menelannya. Dan permen mahal itu berubah rasa menjadi manis jika saya menelannya kelak.

1 komentar:

hahn mengatakan...

mantap mang...
thumbup!

izin di share