Kamis, 30 Desember 2010

Selamat Tahun Baru


Saya pernah melewati malam, termasuk malam tahun baru. Malam pergantian masehi yang kerap ditandai dengan tiupan terompet, saling berpelukan, bertukar ucapan selamat dan seremonial lain. Hingga kini atau 27 kali melewati malam itu, saya masih belum menemukan apa makna di balik tahun baru. Saya malah merasakan malam biasa. Dimana bulan bersinar seperti malam-malam yang lain, angin yang saya rasakan juga masih sama. Begitupun manusia-manusia di sekitar saya, masih berwujud identik dengan sebelumnya. Saya tidak merasakan malam yang istimewa.

Saat saya menengadah ke atas, di langit tidak ada perubahan sama sekali. Gelap tidak terang. Angin hanya membawa suara-suara kembang api dan petasan yang sangat mengganggu perjalanan pulang dari kantor. Detik-detik pergantian hari juga tidak ada yang istimewa. Saat terbangun untuk memulai kegiatan pun biasa saja. Sangat biasa. Sekali lagi, tidak ada yang istimewa.

Mungkin, masehi, diciptakan untuk keteraturan beraktivitas, keteraturan manajemen keuangan, keteraturan untuk hidup secara global. Saya rasa, pergantiannya hanya untuk mengatur rutinitas universal. Selain juga, tak terlalu krusial memang, menandai umur kita yang semakin bertambah.

Lalu, apa makna monumentalnya? Apakah ini adalah saatnya kita beresolusi untuk 365 hari ke depan? Mungkin. Tapi resolusi bisa kita ucapkan setiap saat, setiap detik, setiap waktu. Perubahan atas diri, atas lingkungan tidak harus menunggu malam itu.

Malam pergantian tahun selalu dirayakan. Sekadar untuk diketahui, tingkat hunian hotel di kota saya di malam tahun baru mencapai 100% atau setidaknya di sekitaran angka itu. Kemudian, jika kita menyusuri jalan-jalan protokol, seakan setiap orang enggan dilewati. Hanya sedikit ruang gerak bagi kita. Manusia terbius dengan sugesti pergantian masehi.

Aneh. Padahal tidak ada yang istimewa, cenderung sangat biasa malah. Saya pikir mungkin inilah saat manusia memaknai perjalanannya, pergantian masehi dimanfaatkan untuk mengembangkan esensi hidup dan eksistensi diri. Selain mungkin ada juga yang berniat untuk mengadu pada sesamanya bahwa ”Saya takut menghadapi 365 hari nanti,”

Sugesti yang tak pernah berhenti.

Di akhir, memohon dan berdoalah. Agar 365 hari yang akan datang berpihak pada kita. Tiupan terompet, mudah-mudahan bermakna. Selamat tahun baru. Selamat berkarya dan selamat menjalankan tahap demi tahap kehidupan. Perubahan, semoga itu ada.

Kamis, 02 September 2010

Cerita Seorang Teman

“Kamu tambah kurus,” kata salah seorang teman lama saya.

“Iya kah?” tanya saya.

Lalu, dia mendekat, mengajak bersalaman, dan bergumam, “Mukamu tak berubah, tetap seperti saat pertama kita bertemu dulu, hanya saja, sekarang tampak lebih tua, lebih lelah,” tambahnya, yang dalam tulisan ini tidak akan saya sebut namanya.

Kami bertemu di Jakarta, tepatnya di salah satu tempat makan kaki lima yang justru tidak identik dengan filosofi kaki lima. Lesehan, tidak terlalu nyaman, tapi enak untuk dijadikan tempat menghabiskan waktu. Di tempat itu, kami sempat bertemu pejabat negara (kepala daerah) sedang menikmati makan malamnya. Tanpa pengawalan. Tanpa protokoler. Tapi si pejabat itu hanya menjadi obrolan intermezo kami. Tidak tertarik untuk mengomentari lebih jauh.

Teman saya memesan ayam goreng lengkap dengan sambal dan lalabannya. Saya, hanya meminta es teh manis. Lalu, kami mulai saling bicara, meski awalnya agak canggung.

Teman saya seorang perempuan cerdas.Manusia brilian yang kemampuannya relatif dibutuhkan banyak perusahaan mapan. Tak heran, sekarang dia bekerja di salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Jabatannya, saya tak tahu percis, atau lebih tepatnya lupa.

Dia bukan sahabat, sekadar teman bercerita. Kami juga bisa dikatakan tidak saling membutuhkan. Hanya saja, dia selalu siap mendengarkan apa yang saya curahkan. Pun sebaliknya. “Yah, namanya juga sudah kerja. Banyak pikiran,” jawab saya.

“Terserahlah, yang penting kamu sekarang sudah tampak tua,” kata dia.

“Ah,”

Menurut saya, dia hebat. Jika tampak dari fisik, pakaian dan gadget, kini dia berhasil dalam menata hidup. Tipe perempuan yang tidak banyak bicara tapi bisa menghadapi berbagai persoalan. Mandiri dan punya tujuan hidup. Hari itu, kami banyak bercerita, dari soal negara, politik, analisis media, sepakbola hingga masalah percintaan masing-masing dari kami.

“Rokok?” dia menawarkan rokok mentholnya.

“Tidak,”

Sudah dua tahun kami tidak bertemu. Bahkan dalam kurun waktu tersebut, kami jarang melakukan kontak. “Sebetulnya apa yang kamu lakukan sekarang?” teman saya mencoba mengorek cerita hidup selama dua tahun.

“Saya wartawan,”

“Pekerjaan yang menarik,”

“Kamu sendiri?” tanya saya.

“Saya tidak tahu, apa pekerjaan saya, tapi saya menikmatinya. Banyak diam, tapi dibayar negara,”

Teman saya ini menarik. Dia tidak mau bicara dengan orang yang dia anggap bodoh. Dia juga tidak suka orang yang tidak memiliki semangat hidup. Tapi dia bukan periang, bukan perempuan ceria yang selalu menampakkan ekspresi spontannya. “Saya bosan dengan rutinitas, meski tadi saya bilang menikmatinya,” kata dia.

Wah, pada saat itu saya sering sekali mendengarkan keluhan orang tentang rutinitas. Bukankah rutinitas itu tidak bisa kita hindari? Bukankah rutinitas itu bagian dari hidup? Tulisan saya sebelumnya, penuh dengan keluh kesah. Terutama tentang rutinitas. “Ah, saya yakin, seorang Adolf Hitler sang otoriter fasis, atau Bill Gates si empunya microsoft juga pasti sama-sama pernah bosan dengan rutinitas,” ujar teman saya.

Teman saya cantik, meski tidak sekonyong-konyong kecantikannya itu bisa langsung kita temukan. Tapi lewat tutur bahasa, perilaku dan cara dia menikmati hidupnya (dulu), itulah kecantikannya. “Saya juga mau bilang, kamu jadi kurus. Bukankah, menikmati hidup berbanding lurus dengan berat badan. Katanya jika orang menikmati hidup, berat badannya bisa bertambah,” tutur saya.

“Berkolerasi positif?” tanyanya.

“Hanya hipotesa,”

“Hmmm, entahlah. Tapi saya memang benar-benar menikmati hidup saya sekarang. Mungkin apa yang terjadi dengan saya sekarang adalah antitesa. Kini, saya bisa bebas menjalankan apa yang saya mau. Saya tidak merasa terkekang dengan aturan kantor,” bebernya.

“Itu beda dengan saat saya dulu masih berdiam diri di rumah orang tua. Terlalu banyak aturan tidak tertulis, yang harus dipatuhi. Harus seperti apalah, gimanalah, ada yang membuat aturannya, dan ada beban ketika kita harus mematuhinya,” tambah teman saya.

Dia menengadah ke atas beberapa detik, lalu mengembalikan posisi kepalanya. “Kamu, apakah kamu menikmati hidup?”

“Saya tidak mau membahas tentang menikmati atau tidak. Saya hanya ingin kita bercerita tentang apa yang terjadi dengan masing-masing dari kita setelah tidak pernah bertemu dua tahun ini,” ujar saya.

“Apa kabar pasanganmu?” tanya saya.

“Entahlah, saya lelah jika harus berpikir tentang pasangan. Saya takut untuk menikah. Bukan takut dengan punya atau tidak punya uang. Saya hanya ingin menikmati kesendirian saya. Dengan kata lain, saya tidak mau menikah,” dia menjelaskan.

Ini dia masalahnya. Teman saya ternyata tidak menikmati hidup seutuhnya. Meski, menurut saya dia sudah tergolong mapan secara finansial, tapi ada saja masalah yang menggelayutinya. “Tolong jangan bicara tentang agama, saya hanya ingin kamu dan saya bicara soal samawi,” lanjutnya.

“Ok,”. Pembicaraan mulai menghangat. Sepertinya, dia bersiap-siap mengeluarkan argumen terbaiknya.

Menikah menurutnya sesuatu yang tak penting. Sesuatu yang menghamburkan banyak waktu dan uang. Kebebasan yang saat ini sudah susah payah dia rengkuh, ternyata kembali harus direnggut oleh pelaminan.

“Saya ingin sendiri, seterusnya. Tidak ada anak, tidak ada suami. Saya bahagia sendiri. Maka dari itu saya memutuskan untuk sendiri sekarang. Semua saya nikmati sendirian. Saya punya rumah, punya mobil. Tak perlu berbagi,” bebernya.

Kata dia, menikah itu naif. Penyatuan insan merupakan perbuatan yang dibuat oleh manusia. “Kamu tahu nafsu? Menurut saya menikah itu tidak lain karena itu. Nafsu manusia, ego yang nantinya malah mengkungkung diri kita sendiri,”

“Bukankah dengan menikah kita bisa bahagia. Kita bisa memotivasi diri kita dengan adanya keluarga,” kata saya. “Ah, itu menurutmu. Menurut saya beda. Menikah itu tidak lain karena seks,” jawabnya.

Dia mengucapkan semacam janji, tepat di depan mata saya. “Kamu tahu, saya tidak akan pernah menikah,” ungkapnya. Saya tersenyum…

Beberapa hari lalu, saya menerima SMS, “Datang yah ke kawinan saya,,,,,,,,,,,,,,…..” Nomor yang tercantum adalah nomor teman saya yang terakhir bertemu malam tepat satu tahun lalu di salah satu cafĂ© kaki lima di Jakarta. “Ternyata dia sudah mengerti arti dari pernikahan,” pikir saya.

Minggu, 29 Agustus 2010

In memoriam Kang Ibing

”Dia (Kang Ibing) dulu suka menggosipkan saya sudah meninggal.Begitu juga saya. Waktu saya lagi syuting di Cianjur dulu, ada polisi yang mendekati saya dan bilang ini bener Kang Aom? Kan kata Kang Ibing,Kang Aom sudah meninggal,”kenang Aom Kusman. Bagi presenter senior dan seniman SundaAom Kusman,meninggalnya Kang Ibing bagaikan petir di siang bolong.



Bercanda soal kematian menjadi humor biasa bagi Aom Kusman dan Kang Ibing. Dia bahkan sempat menyangka berita kematian Ibing kebohongan belaka dan hanya candaan sang legenda Sunda itu. Dia baru percaya setelah kru Radio Mara,radio tempat dua sahabat itu pertama kali aktif di dunia broadcasting,menyebutkan kabar tersebut datang dari anak Ibing. Beberapa saat kemudian,kabar meninggalnya Ibing tampil di jejaring sosial Facebook danTwitter.

”Saya pun percaya, tapi masih belum percaya dia sudah tidak ada, saya kehilangan,”ujar Aom saat ditemui Seputar Indonesia di rumahnya, Jalan Rajamantri Tengah III No1,Kota Bandung,kemarin. Aom mengenal pria bernama asli Raden Aang Kusmayatna Kusumadinata itu pada pertengahan tahun 1960-an. Saat itu, keduanya aktif di Daya Mahasiswa Sunda (Damas) atau organisasi mahasiswa yang tertarik dengan ke-Sundaan. Di organisasi tersebut pertama kali ada pagelaran kawinan senopati.

”Saya sudah kenal Ibing dengan bodoran-bodoran-nya. Jadi, saya mengajak dia untuk berperan menjadi lebe(penghulu).Dulu dia belum terkenal, hanya beberapa orang yang mengenalnya. Akhirnya kawinan senopati menjadi acara yang digemari di Damas, ”ungkap Aom. Pada 1970, Aom menjadi penyiar di Radio Mara.Dia mengajak Ibing untuk menjadi penyiar.Ibing pun diterima.

Lalu, siaran keduanya yang dinamakan Kios Cinta menjadi legenda. ”Anak muda dulu, setiap malam Jumat dan malam Minggu pada begadang mendengarkan kami.Tidak ada yang tidak kenal kami di Radio Mara,” ungkap Aom. Pada 1976,Ibing dan Aom menjadi bintang di film pertamanya berjudul Si Kabayan. Keduanya beradu akting dengan aktris Leni Marlina. Di situlah awal terbentuknya D’Kabayan bersama tiga teman lainnya, yakni Suryana Fatah atau Mang Fatah,Wawa Sofyan, dan Ujang.

D’Kabayan sukses total. Aom masih ingat momen pertama manggung grup lawak tersebut di Palembang, Sumatera Selatan, bersama grup vokal Bimbo. ”Dari situlah kami menginvasi Indonesia. Kami main di berbagai tempat di Indonesia dengan sambutan yang luar biasa,” ujarnya. Tapi, maut memisahkan mereka. Wawa Sofyan pertama kali dipanggil Sang Khalik. Beberapa tahun kemudian giliran Suryana Fatah yang meninggal dunia, lalu tidak lama Ujang menyusul.

”Kami berdua (Ibing dan Aom) pernah bercanda. Siapa duluan nih yang dipanggil. Tahunya Ibing.Dan saya menjadi orang terakhir di D’Kabayan,” ungkap Aom. Pada tahun 1990,Aom yang mengaku lebih ngepop menjajaki dunia hiburan ibu kota. Dia mulai menjadi presenter kuis Siapa Diadi TVRI. Seiring dengan kesibukannya di Jakarta, Aom mengurangi siarannya di Radio Mara. Ibing tinggal sendiri. ”Tapi dasar Ibing cerdas, dia memiliki ide untuk acara Cianjuran.

Dan acaranya itu ternyata juga menjadi legenda di Mara,”ungkap Aom. Pada 1995, Aom total meninggalkan dunia siaran dan masuk ke jagat visual atau televisi.Namun, hubungan mereka tidak pernah surut, meski hubungan komunikasi tidak seperti dulu lagi karena dipisahkan jarak Jakarta dan Bandung. Menurut Aom, Ibing lebih kepada dunia ke-Sundaan, sementara dia lebih ngepop.

”Susah menemukan seorang teman secerdas dia.Tapi,dia juga tidak akan pernah bisa punya pasangan yang seperti saya. Karena kami sudah sama-sama tahu jika kami lucu-lucuan, saya mancing ke mana,Ibing ke mana,”cerita Aom. Bagi Aom, meninggalnya Ibing berarti dia tidak akan menemukan lagi humornya dan bercandaan yang superlucu. Banyak kenangan di antara keduanya yang selalu membuat Aom tertawa terkikik sendirian. (krisiandi sacawisastra)


Tulisan ini dimuat di Harian Seputar Indonesia Edisi 21 Agustus 2010. Dan entah kenapa wawancara dengan Aom Kusman ini menarik buat saya. Untuk pertama kalinya, saya meminta foto bareng dengan Aom Kusman.





Keterangan Foto: Kang Ibing (net)
Saya dan Kang Aom (Mudasir/Seputar Indonesia)

Minggu, 30 Mei 2010

Sedikit Keluhan, Saya dan Pekerjaan

Saya hidup mengikuti rutinitas harian. Bangun, mandi, sarapan, berbicara dengan sebagian anggota keluarga lalu keluar rumah untuk mencari berita utuh yang disebarluaskan kepada masyarakat. Berita utuh yang wajib cover both side. Tak peduli apakah berita itu dibaca atau tidak.

Setiap hari, meski relatif bertemu dengan orang yang berbeda, menyusuri jalanan yang tak identik, namun rutinitas yang saya jalani hampir sama. Bermotor, mencari orang, bertanya kepada orang-orang yang dijadikan narasumber dan merangkai setiap kalimat yang keluar dari mulut mereka menjadi tulisan utuh.

Pekerjaan saya menuntut kreativitas, inovasi dan daya analisa mendalam serta pemikiran kritis tentang berbagai isu. Perlu juga daya nalar yang lebih dari manusia biasa. Saya harus menggunakan aspek-aspek tadi. Ya, itu untuk menghasilkan satu tulisan utuh yang dinamakan berita informatif.

Berita yang seolah, tanpa ada aturan tertulis digiring untuk menyusun opini publik, dibawa kepada dimensi perspektif manusia, lalu menciptakan kebijakan, entah baru atau hanya modifikasi. Entah juga kebijakan terstruktur atau kebijakan spontan yang diputuskan rezim, individu atau kelompok. Kadang, tanpa sadar, saya juga menggiring setiap individu atau kelompok untuk berkonflik.

Setiap hari saya dituntut untuk menyajikan tulisan yang enak dibaca dan dijadikan sumber refensi masyarakat. Ya, saya seorang reporter atau wartawan atau sering juga disebut jurnalis. Satu dari empat profesi di negeri ini, selain Dokter, Pengacara dan Psikolog. Profesi yang belakangan menjadi tergandrungi. Menjadi impian sebagian anak-anak muda idealis dan punya jiwa muda menggebu. Profesi ini memiliki kode etik tapi jika ditilik lagi, regulasi itu tidak bertaring. Kode etik percuma. Dan profesi ini, kata sebagian orang, bukan pekerjaan ladang harta.

Setelah berkecimpung dan bergelut dengan dunia reportase, kadang, saya tak ingat waktu. Tak tahu apa yang harus dilakukan selain bekerja, bekerja dan bekerja. Mengulik agar apa yang saya tulis sama dengan keinginan redaktur. Menata agar tulisan saya enak dibaca. Lalu, belajar mengolah isu dan data dari teman satu profesi di lapangan. Kadang saya tak sadar bahwa saya punya orang lain. Kadang saya tak tahu, di sana ada orang yang membutuhkan kehadiran saya atau hanya sekadar butuh disapa.

Sempat terpikir, profesi ini menjauhkan saya dengan objek terdekat, dan semakin menjauhkan saya dengan objek terjauh. Kendati demikian, saya sempat jatuh cinta dengan profesi ini. Lewat pendalaman profesi, saya kenal dengan beberapa pesohor, meski skala kepopulerannya masih jangkauan lokal di Jawa Barat atau Kota Bandung. Lambat laun, cinta saya memudar. Realitas di lapangan tidak sama dengan apa yang saya bayangkan dulu.

Profesi ini tak selalu dihargai, tapi ternyata bisa dengan mudah digadaikan. Kini, saya mencoba untuk lebih longgar dengan waktu. Karena ya itu tadi, cinta saya sudah sedikit memudar dibanding pertamakali saya menggabungkan diri di lingkaran ini. Saya bukan seorang yang memegang teguh prinsip dan idealisme profesi. Saya seorang yang mencoba untuk berdiri dalam kubangan realisme. Logika mewajibkan saya untuk hidup realistis.

Hanya saja, saat ini, saya mencoba untuk tersadar bahwa hidup tak selamanya bertekanan. Hidup harus bernafas lega, tidak melulu harus ngos-ngosan mengejar deadline. Hidup bukan hanya sekadar untuk pekerjaan bukankah? Dunia bukan hanya berita. Ah, saya baru sadar, sudah lama saya tidak menikmati hidup. Memanjakan diri. Menulis apa yang saya mau, bukan yang redaktur inginkan. Bercerita apa yang saya lihat, bukan yang orang lain katakan.

Kadang terbersit pikiran, untuk keluarga besar, saya bukan lagi pendengar dan pencerita yang menarik. Bahkan saya lebih berpikir tentang bagaimana caranya bisa mendapatkan berita terkait tingkat kelulusan SMP di Jabar ketimbang kabar terakhir tentang kesehatan adik saya yang sedang sakit. Saya lebih berupaya untuk mendapatkan pernyataan Rektor Institut Teknologi Bandung (ITB) tentang dihapusnya UU Badan Hukum Pendidikan (BHP) dibanding mengucapkan selamat ulang tahun pada kakak saya.

Dan yang lebih parah, saya lebih memilih untuk berdiam diri di kantor mengerjakan tulisan panjang tentang dana bencana yang tak cair-cair, dibanding menghadiri pemakaman nenek saya. Nenek yang lucu, periang dan bijaksana. Hari dimana dia meninggalkan kami, merupakan hari berkabung bagi keluarga besar. Seluruh anggotanya menitikkan air mata.

“Bersiaplah menjadi anti sosial,” begitu kata redaktur saya saat saya diterima di kantor ini dua tahun lalu. Dulu, saya meremehkan pernyataannya. “Ah, itu hanya stigma yang berkembang di masyarakat, bahwa reporter adalah profesi tak mengenal waktu. Dan sebagai anak muda, saya siap diperkerjakan lebih dari delapan jam sehari,” ucap saya dalam hati. Saya ingat, hari itu redaktur saya menatap saya dengan tatapan dingin dan penuh intimidasi.

Namun, lama kelamaan, perkatan redaktur ada benarnya. Saya benar-benar hampir tidak mengenal waktu untuk sekadar berkumpul dengan teman-teman, bercerita dengan teman terdekat, berbagi pengalaman dengan keluarga atau menonton tiga film DVD setiap hari. Kegiatan yang sering saya lakukan saat saya belum bekerja sebagai informan bagi masyarakat. Hal kecil, saat ini saya bahkan kadang tak sadar kuku saya memanjang.

Tapi, meski dalam tulisan ini saya mengeluh, sejujurnya saya belum mau menanggalkan identitas jurnalis yang saya punya. Saya bangga dengan profesi ini. Kapan lagi, bisa saling tatap dengan Wakil Presiden, dan bertanya kepadanya. Kapan lagi bisa ikut rombongan Gubernur Jabar ke luar kota dengan pengawalan forider.

Lalu, kapan lagi bisa makan di restoran atau hotel paling mahal di Jakarta dan Bandung. Kapan lagi, bisa belajar tentang ilmu ekonomi, ilmu astronomi, ilmu hukum dan ilmu pemerintahan gratis. Jika bukan sebagai reporter. Pengalaman saya memang belum sebanding dengan jurnalis-jurnalis yang lebih senior, lebih hebat dan lebih berpengalaman.

“Apa yang kamu dapat dari kesibukanmu?” tanya ayah saya, seorang pejuang tangguh, dingin dan penuh dengan logika nyata seorang laki-laki. Saya berpikir beberapa detik. Lalu menjawab,

“Ilmu,” singkat saya.

“Ok then, kamu bahagia?” ayah saya lagi.

“Dulu iya, sekarang lebih kepada tidak,”

"Apa yang membuat jawabanmu lebih kepada tidak. Kamu mengeluh?”

“Mungkin (saya mengeluh). Dulu saya hanya berpikir tentang pekerjaan, sekarang saya sudah mencoba untuk bersabar, menanti apa yang (tak kunjung datang) saya harapkan dari tempat dimana saya bekerja,” jawab saya.

Ayah terdiam 2 menit. “Uang?” tanyanya.

“Itu bagian dari apa yang saya harapkan selebihnya penghargaan bagi kerja keras saya, tapi sejujurnya saya belum tahu pasti apa yang menjadi harapan saya,” jawab saya.

Jawaban itu tampak tak memuaskan ayah. Keningnya mengerut, “Jadi, kenapa kamu masih terus sibuk dengan duniamu. Bahkan, saat kami semua berkumpul di rumah pada hari libur, kamu malah pergi, padahal menurutmu, penghargaan yang kamu harapkan itu tak kunjung datang. Kamu terlalu berharap dari duniamu, lalu harapan itu kamu jawantahkan dengan bekerja tak kenal waktu,” ungkapnya.

Saya tak sedikitpun berkomentar. “Kamu tahu arti dari risiko hidup?” tanyanya.

“Tahu,”

“Itulah risiko yang harus kamu tanggung, saat memilih jalan hidup. Karena dalam hidup, segala sesuatunya berisiko. Bukankah dari kecil, kamu bercita-cita menjadi jurnalis. Jadi jangan mengeluh, jalankan, hingga akhirnya kamu menemukan kebahagiaan di tempat ini atau di tempat lain, ” ujar ayah.

Saya tak bergeming. “Peluang ada di setiap pintu, di setiap penjuru,” tambahnya.

Dulu, ayah sempat berharap saya menjadi ekonom, akademisi bertitel atau ahli teknologi informasi (TI). Dia selalu menunjukkan kesuksesan ekonom yang menjadi politisi terkenal, akademisi yang menjadi bagian dari pemerintahan atau ahli TI yang sukses go internasional.

Tapi, setiap kami tengah berdua dalam satu ruangan di rumah asri kami, saya banyak bertanya tentang banyak hal. Tentang negara-negara yang pernah dia kunjungi, tentang istilah ekonomi, tentang pengalamannya sebagai orang tua. Lalu bertanya tentang filosofi dalam Al Quran, bertanya tentang sejarah, bertanya tentang apa saja yang saya ingin ketahui. Dan, satu hari di akhir pembicaraan, “Oke, jika ingin menjadi jurnalis, belajarlah, and be a good journalist,” singkatnya. Usia saya saat itu sekitar 17 tahun.

Sekarang, sejujurnya, jika bisa memilih, saya ingin menjadi akademisi. Berbagi ilmu dengan banyak orang, meneliti dan yang terpenting punya jam bekerja yang sesuai dengan daya tahan tubuh manusia. Tapi saya selalu ingat perkataan ayah tentang hidup. Katanya, “Syukuri apa yang sudah menjadi bagian dari hidupmu, dan yang terpenting adalah do the best and be the best,”.

Ayah mengajarkan tak ada putus asa, jangan kenal dengan penyesalan berlebih, dan lakukan yang terbaik untuk ke depannya. Dan saya mencoba menerapkan hal itu.

Lalu,seorang perempuan bijak yang penyayang mendekat. Dia bertanya, “Bukankah hidup adalah deadline?” tanyanya. Dia adalah ibu saya, wanita paruh baya yang menyenangkan, siap berbagi cerita kapan saja.

“Maksudnya?”

“Hidup adalah bagian dari deadline, dan dari pekerjaanmu terkandung filosofi deadline yang nyata,” jelas ibu. Ibu adalah seorang perempuan religius yang keislamannya sangat kental. Sedikit fundamental, namun sama-sama mengutuk terorisme. He he he.

“Mama(h), berharap kamu bisa hidup bahagia dengan pekerjaanmu, dengan keluarga kecilmu kelak dan dengan apa yang kamu dapat. Manusia diciptakan bukan hanya untuk mengeluh, tapi dengan akalnya dituntut untuk berupaya. Upaya yang seharusnya lebih besar daripada keluhannya” kata ibu. Klise memang, tapi itu cukup untuk membuat saya berpikir.

Pekerjaan tak selalu memuaskan. Apa yang kita dapat, belum tentu didapat orang lain. Dan apa yang orang lain dapat, juga tak pasti kita dapatkan. Saya berupaya agar tidak melihat rumput tetangga yang katanya selalu lebih hijau. Karena hijau itulah mereka, para tetangga, bekerja dengan semangat. Sementara saya, lebih kepada pengabdian. Menjalankan tanggung jawab terhadap diri dan masyarakat. Tapi, terkadang semangat untuk mengerjakan rutinitas dan menjalankan tanggung jawab itu sedikit mengendur.

Saya punya analogi tentang pekerjaan saya. Hasil obrolan dengan teman satu profesi. Menurut kami, profesi saya saat ini dianalogikan sebagai permen yang sangat mahal. Saya sudah memasukkannya dalam mulut, mengemut dengan lidah. Rasanya pahit. Tapi karena mahal, dibuang sayang. Dan karena pahit ditelan pun tak enak, jadi penyakit. Terpaksa saya diamkan dalam mulut meski pahit. Kadang, saya mengutuk permen ini.

Semoga suatu hari nanti saya bisa memutuskan untuk membuang atau menelannya. Dan permen mahal itu berubah rasa menjadi manis jika saya menelannya kelak.

Rabu, 28 April 2010

Memandang Belanda, Memotivasi Indonesia


Dunia mengenal Philips, sama baiknya seperti Philips mengenal dunia. Dengan tagline “Terang Terus”, produk lampu itu menerangi jutaan rumah penduduk bumi. Lalu ada Bata, produsen sandal dan sepatu yang menjadi alas kaki miliaran manusia di dunia. Ada juga Shell, oli yang pernah menjadi sponsor tetap tim F1 Scuderia Ferrari dengan pebalap legendarisnya, Michael Schumacher.

Jika Anda penggemar susu, pasti familiar dengan Frisian Flag (Friesche Vlag) perusahaan induk produsen susu Bendera di Indonesia. Anda juga barangkali kenal dengan Heineken, penghasil jutaan liter bir per tahunnya. Sebagian masyarakat Indonesia pasti mengenal pula Unilever, produsen pasta gigi Pepsodent, sabun Lux, dan produk keperluan rumah tangga sehari-hari lainnya.

Nah, tahukah Anda bahwa berbagai perusahaan indukpemegang merek-merek dagang tersebut berasal dari Belanda, negeri mungil di belahan Eropa yang bernama resmi Koninkrijk der Nederlanden? Negeri kaya inovasi ini punya ikatan yang sangat kuat dengan negara kita, Indonesia. Kedekatan ini terjalin karena nenek moyang sebagian warga Belanda pernah tinggal di Indonesia selama sekitar 3,5 abad.

Kini, perusahaan-perusahaan tadi dikenal sebagai korporat raksasa yang produknya merambah ke berbagai pelosok dunia dan menjadi kekuatan ekonomi Belanda. Selalu ada saja karya dan produk inovatif yang mereka rilis dan kemudian menjadi bagian dari kebutuhan hidup sehari-hari masyarakat dunia.

Belanda tak hanya piawai mencetak beragam produk ionovatif di bidang industri. Kesegaran daya pikir orang-orang Belanda juga merambah dunia olahraga. Sebut saja strategi dan taktik jitu arsitek lapangan rumput mereka yang menjadi fondasi kekuatan tim-tim andal yang berlaga di kancah sepakbola modern.

Belanda menamakan strategi itu “Total Football” yang dikenalkan pelatih tim Belanda di Piala Dunia Jerman Barat 1974, Rinus Michel. Rinus mengajarkan dunia bagaimana sepakbola seimbang antara menyerang dan bertahan. Selain bertaji, strategi “total football” sangat menghibur. Tim asuhan Rinus saat itu sampai dijuluki juara tanpa mahkota.




Masih di kancah sepakbola, Belanda memiliki Ajax Amsterdam, klub dengan metoda inovatif untuk melahirkan para pemain muda brilian di masanya. Klub ini juga memiliki stadion unik yang menjadi salah satu ikon budaya inovasi Belanda. Ya,Stadion ArenA di Amsterdam dibangun di atas terowongan jalan tol!





Dunia sudah mengakui, orang Belanda memang kreatif di berbagai bidang. Apa saja pendorong kuatnya daya kreasi dan inovasi orang-orang Negeri Kincir Angin itu? Saya mencoba membedahnya secara sederhana.

Pertama, jika dihubungkan dengan kondisi geografis negaranya, penduduk Belanda memang dituntut untuk terus berinovasi. Karena jika tidak, bisa jadi Belanda kini hanya tinggal sejarah. Sebagian wilayah negara asal pesepakbola Marco van Basten itu berada di bawah permukaan laut. Tanpa inovasi di bidang teknologi, negeri mungil itu bisa tenggelam.

Kincir angin dan dam yang lebih kita kenal sebagai bendungan adalah inovasi paling populer orang Belanda. Maka wajar saja jika nama beberapa kota di sana berakhiran “dam” seperti Amsterdam atau Rotterdam. Kincir dan dam secara umum berfungsi menjaga agar Belanda tak kebanjiran lalu tenggelam. Dari sanalah istilah “Negeri Kincir Angin” muncul.

Faktor kedua, Belanda tak punya wilayah yang luas yakni hanya 41,526 km persegi. Negeri ini juga tidak punya kekayaan alam melimpah layaknya kita di Indonesia. Jika tak ada ide segar dan baru, maka kini Ratu Beatrix hanya akan memimpin rakyatnya yang miskin, pengangguran, dan sakit-sakitan.

Tidak itu saja. Sumber daya manusianya pun sedikit. Penduduk Belanda kurang lebih hanya sekitar 16 juta jiwa dengan kepadatan 395 jiwa per kilometer persegi. Rakyat Belanda terpaksa -lebih tepatnya dipaksa- memutar otak agar dapat membuat negaranya mampu bersaing di segala bidang dengan negara lain. Motivasi inilah yang kemudian membuat daya inovasi dan daya kreasi orang-orang Belanda menjadi sangat luar biasa. Belanda pun menjelma menjadi salah satu negara termaju di Eropa dan dunia.





Sebetulnya, saya tidak pernah menginjakkan kaki di negeri Perdana Menteri Jan Peter Balkenende itu. Tapi, informasi, kabar, dan kisahnya sering saya dengar baik melalui media maupun secara lisan dari orang-orang yang pernah berkunjung ke sana. “Belanda tak terlupakan,” kata Tamara Anisa, seorang teman saya.

Tamara yang akrab saya sapa Tara, pernah bermukim beberapa bulan di Belanda. Dia sering bercerita bagaimana masyarakat Belanda, tua dan muda, selalu berupaya mencari hal-hal baru hingga menguasai detailnya baik demi kelanjutan hidup personal maupun untuk negara mereka. Kaum muda, pelajar, dan mahasiswanya selalu menjadi garda terdepan proses transfer daya kreatif dan inovatif.

Belanda punya TU Delft University of Technology di Delft, salah satu kota kecil di sana. Siapa sangaka bila universitas ini ternyata merupakan cikal bakal pendirian Institut Teknologi Bandung (ITB), kampus teknik terdepan di Indonesia. Banyak fenomena teknologi yang dihasilkan mahasiswa TU Delft.




“Penelitian mereka tidak hanya untuk jadi formalitas kelulusan seperti kita di Indonesia. Dokumentasi hasil penelitian mahasiswa di sana tidak juga hanya untuk ditumpuk atau disimpan rapi di perpustakaan tanpa tindak lanjut atau implementasi berarti,” tutur Tara.

Bila ada bagian yang kurang, mereka akan terus meneliti hingga karyanya sempurna dan bisa diimplementasikan untuk kemajuan kehidupan. “Karya penelitian di sana sangat dihargai, baik secara moral maupun materil,” ujar Tara lagi.

Bagi saya, Belanda sudah menjadi hapalan sehari-hari sejak duduk di bangku sekolah dasar. Nama negara itu sering menjadi materi soal ujian pada mata pelajaran Sejarah. Beberapa pertanyaan misalnya, “Tahun berapa Belanda (VOC) mendarat di Sunda Kelapa?”, “Siapa perwakilan Belanda di perjanjian Linggarjati?,” atau “Di kota mana Konferensi Meja Bundar digelar?” sering saya temui di tes-tes mata pelajaran sejarah.

Jujur, saya sempat membenci Belanda saat kecil dulu. Buku-buku pelajaran sejarah memuat bagaimana Belanda menciptakan kebodohan, keterpurukan, dan kemiskinan di Indonesia ratusan tahun lamanya. Bayangan saya saat itu tentang orang Belanda adalah bule-bule sombong, kejam, dan angkuh.

Namun seiring dengan kedewasaan sekaligus perkembangan wawasan, kini saya berdecak kagum terhadap Belanda. Bayangkan saja, bagaimana bisa ratusan tahun lalu, orang-orang dari negeri mungil tersebut menguasai Nusantara bentukan Maha Patih Gajah Mada.

Satu hal lagi yang saya pelajari dari negeri eks jajahan Spanyol ini adalah kebebasan. Terlepas dari konteks sejarah dengan Indonesia, sisi lain Belanda sebenarnya telah mengajarkan dunia tentang kebebasan dan cara menghargainya. Kebebasan adalah sarana untuk mendukung daya pikir pembaharu.

Tara bercerita, di Belanda, seks pranikah cenderung legal, homoseks tidak tabu. Negara itu bahkan dikenal sebagai tempat pernikahan kaum homo. Di Belanda, tayangan porno ada di hampir semua siaran televisi. Ganja pun diperjualbelikan bebas di beberapa gerai. Prostitusi juga diizinkan.

Kacaukah Belanda? Tidak. Kebebasan ternyata justru membuat Belanda teratur. Bahkan, Belanda bahkan dikenal sebagai kiblat alias acuan hukum dunia!

Di samping segala keterbatasan mengenai daratannya yang terancam bencana air bah, luas wilayah yang sempit atau SDM yang kurang, kebebasan inilah yang hakikinya membuat daya imajinasi dan inovasi orang-orang Belanda begitu tinggi.

Anda pasti mengenal Vincent Willem van Gogh (30 Maret 1853 – 29 Juli 1890). Seorang pelukis pengidap epilepsi kelahiran Belanda yang karyanya berdampak luas di dunia. Beraliran ekpresionis, proses kreatif van Gogh juga berangkat dari kebebasan penuh dalam menuangkan ide pada karya-karyanya.


Philips, Shell, Rinus Michael, van Gogh, dan banyak lembaga atau tokoh Belanda lainnya memiliki karya-karya inspiratif karena dukungan penuh negara. Dukungan lingkungan yang beretos kerja tinggi serta sektor pendidikan yang memiliki hubungan baik dengan industri.

Inti dari paparan tentang sekelumit Belanda yang saya tahu ini adalah inspirasi dan dorongan kuat bagi kita untuk tidak berhenti berinovasi. Inovasilah yang membuat negeri mungil itu menjadi bersahaja dan dihormati negara-negara lain di belahan dunia. Inovasi tiada henti.

Dan saya ingin merasakan langsung betapa budaya terus berinovasi itu masuk ke sendi-sendi kehidupan masyarakatnya. Saya ingin merasakan langsung bagaimana proses dan daya kreatif bisa membuat kehidupan manusia menjadi lebih maju, lebih berarti. Bagi dirinya sendiri, lingkungan, dan negaranya. Saya ingin –dengan ilmu dan pengalaman di Belanda-, suatu saat menjadi pelaku sekaligus saksi bahwa Indonesia pun bisa menjadi salah satu kekuatan yang diperhitungkan di dunia. (krisiandi sacawisastra)





keterangan foto: foto1: rinus michels www.sportsillustrated.cnn.com
foto2: stadion Amsterdam ArenA www.skyscrapercity.com/showthrea
foto3: Perdana Menteri Jan Peter Balkenende www.rnw.nl
Foto4: TU Delft Building www.boiteaoutils.blogspot.com
Foto5: Vincent van gogh http://id.wikipedia.org/wiki/Vincent_van_Gogh

Jumat, 02 Oktober 2009

Bandung Kota Ternyaman?

Saya bukan warga Kota Bandung. Saya ber KTP Kabupaten Bandung, bertempat tinggal di Jalan Kopo, salah satu jalan terpanjang di Bandung Raya, membentang menghubungkan Kabupaten dan Kota Bandung. Jujur, saya tidak begitu mengenal kabupaten tempat saya tinggal. Bahkan saat menulis tulisan ini, jika tidak mencarinya di internet, saya tidak tahu berapa kecamatan yang membentuk kabupaten ini.

Tinggal di wilayahnya bupati, tapi sehari-hari saya mencari uang di daerah kekuasaan wali kota. Saya menghabiskan sebagian besar waktu di Kota Bandung, kota legendaris yang konon katanya berjulukan “Parisj van Java”, entah apa sejarahnya sampai ada kalimat itu keluar dari mulut orang-orang Belanda dan Inggris yang akhirnya dibangga-banggakan penduduk lokal. Sampai-sampai ada pusat perbelanjaan di kota ini yang namanya identik dengan julukan itu.

Sedikit cerita, banyak versi kenapa Bandung disamakan dengan Ibu Kota Prancis. Salah satunya, konon orang eropa tetua yang datang ke kota ini menilai WTS Kota Bandung sama cantiknya dengan perempuan penjaja cinta di Kota Paris, mengerikan. Apa kita patut berbangga Bung? Ada juga yang bercerita bule-bule kompeni yang datang ke kota ini terkagum-kagum melihat konstruksi bangunan kota yang menurut mereka seindah Paris, di samping berbabagai versi lainnya.

Tapi, melihat fakta dan kondisi saat ini, saya tidak percaya pada dua versi itu. Coba kita sebut dalam bahasa Indonesia. “Parisnya Pulau Jawa,”. Sekali lagi, “Parisnya Pulang Jawa,” apa iya Bung? Anda saja yang menjawab. Saya sudahi sedikit ceritanya dan balik ke substansi tulisan.

Tuntutan hidup. Ya itu dia yang mengharuskan saya berlelah-lelah setiap hari. Menyusuri jalan lintas kabupaten-kota. Tuntutan mencari uang. Cape jika dipikir-pikir. Oh, iya, sekadar informasi, jarak yang saya tempuh setiap harinya tidak kurang dari 30 km pulang-pergi. Informasi selanjutnya, saya pengguna motor.

Untungnya dimotor saya tidak ada tulisan “Antar Kota Dalam Provinsi (AKDP)”
Yups, saya seorang komuter, pejuang tangguh luar biasa, tak mengenal lelah, dan tak menuntut gaji besar pada perusahaan. Patut dijadikan pegawai teladan oleh tempat dimana saya bekerja. He he he he. Ahh, selesai juga pamer nasibnya, sekarang ke substansi pokok tulisan.

Ok, lets talk about Kota Bandung yang menurut salah satu lembaga survei didaulat menjadi kota ternyaman di republik ini. Tak urung hasil survei itu menuai kontroversi. Ada yang setuju, namun lebih banyak yang tidak, bahkan ketidaksetujuannya dibumbui dengan sumpah serapah. Sumpah serapah-sumpah serapah itu akan saya ceritakan di bagian lain.

Yups, saya termasuk salah seorang dari sedikit yang menyatakan setuju. Tegas, saya setuju dengan gelar Bandung kota ternyaman. Bahkan jika dipikir-pikir kenapa juga banyak orang yang memilih tinggal di luar negeri, padahal di sini, bisa dibilang surga dunia. Sangat nyaman tinggal di Kota Bandung.

Oke, saya coba paparkan kenyamanan-kenyamanan itu. Di luar negeri, di Kota Delft, Belanda misalnya, berdasarkan cerita teman (terdekat), jika kita menuju tempat tujuan tidak ada kendala berarti yang malah membuat perjalanan menjadi tidak seru, tanpa tantangan. Tinggal pakai sepeda lalu sampai atau gunakan trem jika agak jauh. Di seluruh negara bagian di AS, menurut cerita bokap, sistem lalu lintas sudah computerise full. Jadi, jika kita tak memiliki SIM, ketahuan polisi, tertangkaplah kita. Tak nyaman bukan?

Di Bandung, kita disuguhi banyak fasilitas. Fasilitas untuk melihat dan belajar tingkah laku banyak orang saat kita melakukan perjalanan ke tempat tujuan. Kita juga bisa melatih mental kita. “Anger Management” lebih terasah. Atau memandang perempuan atau laki-laki yang menarik minat mata lebih lama. Ya, kita di Bandung punya fasilitas kenyamanan yang disebut MACET. Manfaatkanlah fasilitas yang didapat warganya setiap pagi di hari kerja. I fed up with trafic jam.

Kenyamanan lainnya, jika kita tidak punya surat-surat berlalu lintas, atau melanggar UU. No14 Tahun 1992 tentang lalu lintas, maka kita bisa berdamai dengan si penegak UU itu. Keluar uang sedikit lah untuk yang tidak mengenakan helm, atau agak banyak untuk yang lupa bawa SIM dan juga bagi yang tidak punya surat izin itu. Nyaman Kan?
Di sini, penduduknya mudah membeli kendaraan. Caranya, kredit lewat perusahaan leasing yang menjamur.

Jadi lihat, jika Anda berangkat sekolah atau bekerja pada pagi hari saat berhenti di lampu merah, kendaraan roda dua bejubel. Kendaraan yang tadinya diharapkan jadi solusi kemacetan malah menciptakan antrian parah, bahkan jadi makhluk pembunuh. Pihak Kepolisian Wilayah Kota Besar Bandung menyatakan tahun lalu jumlah kecelakaan roda dua yang menimbulkan korban jiwa sebanyak ratusan kasus, baik kecelakaan tunggal ataupun kecelakaan yang melibatkan banyak kendaraan.

Kota Bandung surganya wisata kuliner dan belanja. Saking surganya, kita bisa seenak udel memarkirkan kendaraan di pinggir jalan untuk belanja baju bermerk bonafit setengah asli (palsu) di FO-FO dan dilanjutkan makan di restaurant tak berizin. Bahkan kadang cuek saja, sampai ke badan jalan. Tidak ada tempat parkir khusus. Jadi, peduli amat sama orang lain yang tidak nyaman.

Mau usaha? Gampang. Di sini, dari usaha kecil-kecilan sampai usaha hotel bisa diatur. Kalau kita hanya punya modal kecil, tinggal beli lapak, mau jualan apa saja bisa dimana saja, atur saja Bung. Lihat, di Jalan Ir H Djuanda (Dago) saat malam, banyak lapak kaki lima dan kios-kios yang berjualan. Padahal kawasan itu masuk dalam kawasan hijau dan tidak boleh dirusak. Punya modal agak besar? Mau mendirikan hotel?, gampang. Tinggal punya banyak duit untuk dibagi-bagikan, ya dirikan.

Mall? Sama, mau berapa tingkat pun, hajar. Jadilah, kota yang dibanggakan karena pepohonannya dulu, penuh dengan usaha-usaha yang konsekuensinya menebang pohon. Konon, aturan tentang batas tinggi bangunan pun dilanggar. Hutan kota yang tinggal sedikit, digunduli untuk mendirikan restaurant.

Di luar negeri, disediakan tempat bagi yang merokok. Di sini, nyaman. Kita bisa merokok seenaknya, bahkan di angkutan kota sekalipun. Peduli amat ada bayi. Yang penting, gue nyaman. Bahkan di tempat ber-AC pun, cuek, kita bisa merokok. Padahal, itu berisiko bagi paru-paru kita dan orang lain. Pejabat yang satu bilang, “Kurangi rokok,”, pejabat lainnya, “Mari kita merokok, diamkanlah pejabat itu, toh kita beda partai,” katanya. Sangat nyaman bukan?

Dan sampah. Kota ini tempat sampah besar. Kita bisa membuang sampah dimana saja. Di luar negeri, jangan harap bisa. Sampah apapun, kita tidak usah susah-susah cari tempat sampah, buang saja. Kota ini tempat sampah terbesar di dunia. Terluas. Bahkan kota ini pernah dijuluki Bandung Lautan Sampah pelesetan dari Bandung Lautan Api. Nyaman bukan?

Konon, di kota ini, atau bahkan di negeri ini, peredaran buku tidak dibatasi. Buku-buku bercontent hasil pemikiran ideologi, ada Karl Marx, Lenin atau karangan Stalin bebas beredar. Semua bisa membacanya. Tapi sayang, kenyamanan yang ini tidak dimanfaatkan penduduknya. Padahal setiap warga bisa bebas membaca buku-buku itu dimana saja tanpa harus takut. Sayang.

Begitupun juga website di internet. Bebas, tanpa ada batas. Di kantor-kantor pemerintahan, para abdi negara bisa mendownload film porno jika sedang tidak ada kerjaan. Bahkan mengutamakan downloadnya daripada kerjanya. Mumpung gratisan dan dibayar uang rakyat. Atau bisa juga membaca situs-situs yang dianggap dapat mencuci otak kita. Sangat nyaman bukan?, di luar negeri belum tentu bisa Bung.

Dan, jika Anda memiliki jiwa petualang dan pencari tantangan ada wahana penyalur bakat dan hobi Anda di kota ini. Anda bisa keluar lewat pukul 12 malam menggunakan sepeda motor. Bisa jadi, Anda menemukan fasilitas geng motor yang digawangi para anak muda labil yang sedang mencari jati diri.

Sebagai petualang, Anda bisa bertarung melawan mereka yang jika Anda sedang beruntung, Anda bisa melihat kelihaian mereka menggunakan samurai, toya, tongkat dan lainnya. Mereka bertarung tanpa skill bela diri mumpuni, langsung keroyok. Tak sedikit korban jiwa akibat perbuatan labil mereka itu.

Itulah sedikit dari banyak alasan Kota Bandung menjadi salah satu kota ternyaman di Indonesia bahkan dunia. Saya berharap, satu saat Kota Bandung menjadi kota yang tidak nyaman dengan aturan ketat yang diimplementasikan dan dipatuhi masyarakatnya. Jika Anda punya alasan lain, bisa dipaparkan, di media apapun yang Anda punya. Terimakasih. ∆

Kamis, 27 Agustus 2009

Menyapa Rakyat, Dengan Damai


Mahkamah Konstitusi (MK) sudah memutuskan. Sembilan hakim konstitusional menolak semua gugatan sengketa Pemilihan Presiden (Pilpres) tahun ini. MK menilai tidak ada kecurangan yang terencana, masive dan terstruktur. Pemilu tetap dengan hasil yang sudah diputuskan, tidak ada pemilu ulang atau pun pemilu putaran ke-dua.

Dengan keputusan itu, ada pihak yang puas, tentu juga ada yang tidak. Pihak yang diuntungkan dengan keputusan MK, si termohon dan peserta nomor 2, berseri-seri. Sementara kubu nomor 1 dan nomor 3 berang, meski, mungkin dengan keterpaksaan, akhirnya menerima. This is reality dude, walau kadang, salahnya manusia, adalah tidak suka dengan realitas.

Saatnya sekarang untuk membenahi negeri ini, untuk yang menang, pun bagi yang takluk. Jangan mempolitisasi kondisi dan situasi negeri ini. Jangan pernah ada politik drama lagi yang seolah-olah tersakiti. Rakyat bosan dengan konflik para elite. Ketiga pasangan calon mesti menjadi pahlawan republik. Jangan bosan untuk menyapa rakyat, meski lewat jalan yang berbeda, bukan sebagai presiden atau wakil presiden, tapi sebagai pahlawan bagi bangsa. Pahlawan demokrasi.

Jangan lelah untuk berjuang bagi bangsa ini. Walau beginilah akhirnya, Anda tetap kalah. Namun Anda, sama sekali bukan pecundang. Setidaknya, Anda semua sudah membuktikan pada dunia, bahwa kami bisa, kami bisa menjalankan demokrasi. Tidak ada anarkis, saat kekecewaan memuncak. Tidak ada kekerasan saat beranggapan aturan sudah dinafikan. Meski pada akhirnya, Anda menggugat, namun mungkin itu bagian dari pembuktian tadi, bahwa kami bisa menjalankan demokrasi sepenuhnya, tidak setengah-setengah. Meski, untuk hasil dan penyelenggaraan, sebagian dari kami, termasuk saya mungkin sama sekali tidak puas.

Dan MK adalah lembaga yang memiliki legitimasi dari rakyat untuk memutuskan, semua harus tunduk pada peradilan regulasi ini. Keputusan MK sudah menjadi kebijakan hukum yang kuat. Banyak hal yang perlu dibenahi, sehingga ke depannya, Pemilu ‘tidak lagi membutuhkan’ lembaga seperti MK, maupun Mahkamah Agung (MA). Tapi cukup hanya memperkerjakan Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu). Saya tidak akan membeberkan apa-apa yang perlu dibenahi, karena itu sudah terus dikumandangkan oleh para pakar. Dan mudah-mudahan, semua pihak mendengar.

Ada yang bilang, Pemilu adalah pesta bagi rakyat. Dan pesta merupakan sesuatu yang menggembirakan, bukan malah menciptakan konflik. Pemilu adalah pesta yang memudahkan, bukan malah menyulitkan. Tidak akan ada orang yang datang ke pesta, jika ternyata pesta itu malah menghambat dirinya untuk mengeksplorasi. Jadi, Pemilu nanti, bangsa ini harus merealisasikan ungkapan Pemilu adalah benar-benar Pesta bagi rakyat.

Akhirnya, rakyat lega sekarang. Semua sudah bisa menerima. Sesuai janji yang diucapkan dulu, sebelum Anda berkompetisi. “Siap Menang Siap Kalah”. Lalu, jika Anda malas untuk mengucapkan selamat pada pemenang, pura-puralah. Tersenyum dan ucapkan selamat. Demi rakyat. Jika Anda masih menaruh rasa dendam, masih ada lima tahun lagi. Jangan perlihatkan dendam Anda sekarang. Demi rakyat. Dan jika Anda masih belum puas dengan putusan-putusan yang ada, Anda harus menerima, dengan keterpaksaan atau tidak. Semua itu, demi rakyat, demi Bangsa dan demi Indonesia. (krisiandi sacawisastra)


Tulisan dibuat sesaat setelah keputusan MK